Dogol Bicara Batavia Air
July 2nd, 2010 § 6 Comments
Minggu, 27 Juni 2010, kami kembali terbang ke Makassar. Ada sebuah acara keluarga yang akan dihadiri, dan ini adalah untuk pertama kalinya aku terbang menggunakan Batavia Air (Y6).
Pengalaman terbang si Dogol memang masih minim.
Aku jarang terbang. Kalaupun terbang, biasanya untuk keperluan kerja, dan pabrik tempat si Dogol dulu bekerja selalu membelikan tiket GA.
Berhubung sekarang statusnya pengangguran dan bepergian untuk keperluan pribadi, maka tentu saja tiket harus dibayar dari dompet sendiri :D. Terus terang saja, penerbangan ini kami pilih atas pertimbangan harga — harga yang sangat bersaing, hampir setengah dari harga tiket GA (keduanya untuk satu kali jalan). Jelas sangat menggiurkan.
Yah, tapi harga memang tidak bohong.
.
Pelayanan Y6, mulai dari saat di Bandara, tidak bisa disetarakan dengan GA. Kualitas memang lebih rendah, tapi apakah masih dapat dibilang nyaman?
.
Evaluasi aku mulai dari pertama, pemesanan dan pembayaran tiket.
.
Pemesanan dan Pembayaran Tiket
Tiket aku pesan melalui situs resmi mereka, Batavia-air.com. Cara pemesanan relatif mudah dan cepat. Pembayaran juga bisa dilakukan dengan mudah menggunakan kartu kredit ataupun klikbca — aku menggunakan klikbca. Satu-satunya kekurangan adalah, apabila membayar lewat klikbca, tiket harus dibayar dalam kurun waktu satu jam — tidak nyaman untuk orang-orang yang tidak memiliki internet banking.
Oh iya, harga pertiket yang ditawarkan pun tidak berbeda untuk sekali jalan atau bolak-balik (dua tiket). Artinya, para penumpang bisa lebih fleksibel dalam menentukan waktu perjalanan tanpa dirugikan karena ‘keharusan’ membeli tiket bolak-balik, ataupun keharusan membeli tiket dari maskapai yang sama.
Kesimpulan sementara: Bagus, hampir sempurna.
.
Ruang tunggu
Kenyamanan ruang tunggu di terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta tidaklah senyaman di terminal 2 — salah satunya karena banyak asap rokok.
Terminal 1 lebih smoker-friendly karena menyediakan ‘ruang merokok’ yang besar — tidak seperti terminal 2 yang hampir seluruh ruangannya tertutup dan udaranya diatur (baca: air-conditioned). Bagi si Dogol yang sudah berhenti merokok saja hal ini terasa sangat mengganggu, apalagi untuk orang-orang yang tidak merokok.
Sebenarnya ruang tunggunya masih relatif nyaman, tidak ada masalah besar yang harus dikeluhkan, kecuali bahwa tempatnya penuh. Penuh bukan karena tempatnya sempit, tapi penuh karena banyak penumpang yang bertumpuk menunggu jadwal penerbangan yang molor.
Tentu saja, masalah kenyamanan ruang tunggu bukan sepenuhnya tanggung jawab Y6, karena pengelolaan fasilitas bandara dan ruang tunggunya adalah wewenang Bandara. Tapi pastilah hal ini berhubungan juga dengan harga sewa yang harus dibayarkan Y6 ke pihak bandara, yang pada akhirnya akan direfleksikan oleh harga tiket pesawat.
Masalah ruang yang penuh juga bisa diperbaiki Y6 dengan menyediakan penerbangan yang tepat waktu.
Kesimpulan sementara: kondisi tidak bisa dikatakan bagus, tapi masih layak.
.
Ketepatan waktu
Aku tidak tahu apakah ini hal yang biasa (sering terjadi) bagi maskapai Batavia Air, tapi yang jelas penerbangan kami kemarin ditunda sampai dengan satu jam — tanpa keterangan apapun dari Y6.
Terlambat satu jam mungkin tidak terlalu fatal, masih bisa dikategorikan ‘normal’ dalam tatanan masyarakat jam karet di tanah air kita ini. Tapi, bagaimana nasib para penumpang yang (misalnya) punya penerbangan lanjutan?
Di ruang tunggu yang sama, ada satu lagi penerbangan Y6 (ke Pangkal Pinang) yang saat itu ditunda juga — mungkin hampir satu jam juga. Untuk penerbangan itu, Y6 mengatakan keterlambatan diakibatkan karena pesawat terbangnya terlambat datang. Halah, kok terlambat-berkelanjutan begini?
Pada dasarnya aku adalah orang yang menyukai ketepatan waktu. Jadi, keterlambatan satu jam — apalagi tanpa pemberitahuan yang jelas — adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.
Kesimpulan sementara: Tidak layak — apalagi kalau keterlambatan seperti ini sering terjadi.
.
Kenyamanan kabin
Pesawat Boeing 737-400 yang kemarin aku naiki secara umum berkualitas nyaman. Tidak ada kelas bisnis, hanya ada bangku ekonomi yang sempit — sama saja dengan sempitnya bangku ekonomi di GA.
Kursinya juga sama saja, tidak ada yang istimewa, kecuali bahwa ada sedikit kerusakan di kursiku. Tombol pengatur posisi senderan kursiku terkunci dalam posisi buka. Artinya, setiap kali aku menyenderkan badan, kursi akan terdorong ke belakang sampai posisi maksimal. Alhasil, saat take-off dan landing aku tidak boleh menyenderkan badan karena posisi kursi harus tegak.
Aku tidak sempat menggunakan toilet. Namun, menurut #Q, toiletnya cukup nyaman dan bersih. Sayang, pengguna toilet sebelum #Q jorok dan sangat inconsiderate saat menggunakan fasilitas umum.
Kesimpulan sementara: kondisinya lumayan. Tidak buruk, tapi juga tidak istimewa.
.
Hiburan & Makanan
Tidak ada hiburan di penerbangan kemarin. Tidak ada TV yang menayangkan episode komedi bisu, tidak ada koran, majalah ataupun bacaan lain. Tidak ada. Oh iya, ada ‘majalah’ yang menawarkan pernak-pernik Batavia Air. Tapi tentu saja, ini untuk dagang, bukan untuk menghibur penumpang. Hehe.
Catatan tambahan, aku rasa ‘majalah’ tersebut butuh seorang editor. Banyak sekali kesalahan bahasa di dalamnya.
Makanan? Walaupun tidak istimewa, tapi aku merasa bahagia karena masih dapat dua potong roti dan secangkir air mineral. Kalau berminat, juga bisa meminta secangkir kopi atau teh panas. Terus terang, ini melebihi harapanku karena aku pikir aku tidak akan dapat makanan. :D
Kesimpulan sementara: Minimalis, tapi masih layak.
.
Kru kabin & Pelayanan umum
Pramugari dan pramugara di penerbangan ini masih muda-muda, cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Tapi — mungkin karena terbiasa dengan keramahan pelayan Jepang yang super (walau kadang terlalu ekspresif) — aku merasa para pramugarinya terlalu judes dan tidak ramah. Meminjam istilah teman: cagar — cantik tapi garang.
Pelayanan minim, bukan berarti tidak peduli kondisi penumpang. Batavia Air juga memberikan layanan bagi orang yang membutuhkan bantuan khusus seperti kursi roda, lho.
Sempat kulihat sendiri tiga kursi roda terparkir di bawah tangga turun pesawat, menunggu penumpang yang membutuhkan. Salah satunya bahkan dijemput sampai ke dalam kabin — kursi roda dan penumpangnya diangkut ke luar pesawat.
Kesimpulan sementara: layak, tapi perlu perbaikan.
.
Penerbangan
Tidak ada masalah dalam penerbangan. Tidak ada turbulensi ataupun goncangan yang berlebihan. Aku bahkan sempat tidur dengan nyaman — suatu hal yang jarang aku lakukan ketika sedang terbang; entah karena sibuk dengan sistem hiburan, atau karena penerbangannya terlalu bumpy.
Satu nilai minus hanyalah ketika pesawat membelok mendekati bandara Hasanuddin. Aku merasa pilot berbelok terlalu tajam, sampai-sampai G-Force sangat terasa di kepala. Selain itu, aku tidak merasakan kendala apa-apa dalam penerbangan.
Kesimpulan sementara: Hampir sempurna.
.
Hummm, rasanya sudah semua aspek aku paparkan. Sekarang saatnya menuju ke kesimpulan akhir…
.
Kesimpulan akhir:
Terus terang saja, aku mengawali penerbangan dengan pandangan yang skeptis. Ekspektasiku rendah dan berbagai kecemasan muncul di kepala. Sekarang aku harus mengakui bahwa ketakutanku itu berlebihan. Aku masih merasa cukup nyaman untuk terbang bersama Batavia Air. Untuk kawan-kawan yang tidak terlalu memerlukan pelayanan ataupun kenyamanan ekstra, Batavia Air layak untuk menjadi pilihan.
Akhir kata, Batavia Air masih layak mendapat rekomendasi untuk kategori budget airline.
.
Catatan khusus: aku merasa nyaman terbang bersama Batavia Air, tapi aku justru merasa agak khawatir dengan polah tingkah para penumpang lainnya.
Prilaku rekan-rekan seperjalanan yang membuat cemas antara lain:
-
Masih menelpon menggunakan telpon genggam, bahkan ketika pesawat sudah mulai mundur dari apron.
-
Seperti sempat disinggung tadi, ada beberapa penumpang yang jorok dan inconsiderate dalam mempergunakan fasilitas umum di pesawat.
-
Sudah menyalakan telepon bahkan ketika pesawat masih bergerak menuju apron – padahal baru saja diperingatkan oleh pramugara.
-
Beberapa tidak hanya membuka sabuk pengaman, tapi bahkan sudah berdiri ketika pesawat masih bergerak.
.
Hhhhh… suka pusing sendiri kalau sudah begini.
Khusus mengenai telepon genggam… Menurutku, menyalakan telpon genggam tidak pada tempat atau waktunya — yang pada akhirnya membahayakan penerbangan dan juga keselamatan penumpang lain — adalah tindakan kriminal; percobaan pembunuhan! Pelakunya harus dihukum dengan setimpal.
.
[Gm]
.
PS: Blog ini kok jadi berisi kaji-ulang maskapai penerbangan Indonesia melulu ya? Hehe.
PPS: Sabtu, 3 Juli 2010 ini kami akan terbang kembali ke Jakarta, tapi kali ini tidak menggunakan Y6 karena harga tiket pesawat yang tersisa hampir sama dengan GA. Kami memutuskan untuk memilih GA saja, sekalian menambah mileage.
.
Paparan ini ditulis dan di’naik-cetak’kan menggunakan Blogdesk dan koneksi internet XL. Terima kasih telah membaca ini.
ternyata masih sama dapet roti sama aqua gelas juga ya kayak waktu gue dulu dinas ke semarang.
Kalo GA untuk domestik gimana goy pelayanannya?
Hummm… Pelayanan GA beda kelas pastinya. Dapet makan lengkap, ada film komedi bisu (gak ada suaranya sih hehe), bacaan sperti majalah garuda dan koran, dan pramugara/i yang ramah… Dan yang paling utama, jadwal yang tepat waktu.
kalo GA untuk domestik bisa pesen tiket online juga gak goy?
Aku pribadi belum pernah coba, tapi menurut seorang kawan yang memberi komentar di paparan tentang GA sih sudah bisa. Langsung saja ke situs resminya, durb.
Ngomong-ngomong, kenapa jadi ngomongin GA ya? Paparan ini kan tentang Y6… Hehehe…
aku naik GA demi mileage, hehehehe
Yoih… Tinggal hitung-hitung saja, mending harga mahal atau mileage…