Cerita berikut bersifat pribadi, mungkin tidak terlalu bermanfaat buat orang-orang yang nyasar ke blog ini untuk mencari informasi ataupun ilmu. Hehehe.
.
Tidak terasa, sudah satu minggu berada di kampungnya Oshin. Bukan kali pertama datang ke sini, tapi pertama kalinya datang untuk menetap. Ada yang berbeda.
Beberapa hari pertama dihabiskan dengan membereskan rumah — tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberi tempat buat barang-barang si Dogol yang dibawa dari Indonesia. Tidak banyak sebenarnya, tapi rumah kontrakan kami relatif kecil dan sempit, jadi manajemen ruang yang baik adalah sesuatu yang kritis :-). Persiapan ini pun akhirnya kelar pada hari Minggu, 18 Oktober 2009.
Setelah itu, persiapan lain yang harus dilakukan adalah melaporkan diri ke kelurahan. Sebagai warga yang baik — dan bukan penduduk gelap — melaporkan diri dan membuat KTP (Kartu Tanda Penduduk, Alien Card) adalah kewajiban. Selain itu, aku juga harus mendaftar asuransi. Supaya kalau sakit dan lain hal tidak akan terlalu membebani keuangan kami. Semua itu bisa dilakukan di kantor tata-kota setempat.
.
Sebenarnya aku sudah mendaftarkan diri ketika datang terakhir kali (Agustus 2009), jadi sekarang hanya perlu datang dan mengambil KTP itu. Biasanya memerlukan waktu sekitar empat minggu untuk memproses Alien Registration. Untuk asuransi, waktu yang diperlukan hanyalah satu-dua hari. Cepat dan nyaman. Jadi, sekarang si Dogol sudah resmi menjadi warga kota Yamato, Kanagawa, Tokyo. Hehehe.
.
Lalu, hal apa lagi yang perlu disiapkan? Alat komunikasi! Dalam hal ini adalah telepon genggam. Barang ini bisa jadi sangat penting apalagi mengingat si Dogol tidak bisa berbahasa Jepang maupun membaca sandi rumput (kanji). Telepon genggam — dan nomor-nomor darurat, yaitu nomor telpon istri, mbakyu, sepupu dan teman-teman — adalah sesuatu yang bisa menyelamatkan si Dogol di kasus-kasus darurat. Kartu telepon Indonesia sebenarnya juga bisa digunakan di sini. Untuk XL dan Telkomsel sepertinya tidak perlu mendaftar dahulu (XL prabayar dan Simpatiku bisa langsung bekerja dengan baik di sini), tapi nomor Indosat (IM3) yang terbawa rupanya tidak bisa bekerja. Oh iya, kartu telepon Indonesia itu hanya bisa digunakan apabila telepon genggam yang digunakan sudah mempunyai fitur 3G (atau UMTS ya? Aku lupa). Untuk lebih jelasnya, silakan dilihat saja di sini.
Walaupun nomor telepon Indonesia bisa digunakan, tentu saja akan lebih murah dan mudah jika menggunakan nomor telepon Jepang. Sama seperti kampung seberang (Singapura), penyedia jasa telekomunikasi di Jepang lebih mengarahkan konsumennya untuk mempunyai kontrak. Pelanggan paskabayar akan mendapat lebih banyak keuntungan dibandingkan konsumen prabayar. Berbeda dengan Indonesia, di mana pelanggan prabayar lebih diuntungkan daripada pelanggan paskabayar.
Jadi, mendaftarlah si Dogol ke salah satu penyedia jasa telkom di Tokyo. Sepengetahuanku, ada tiga penyedia jasa telkom di sini; Au, Docomo dan Softbank. Atas satu dan lain hal, si Dogol memilih untuk menggunakan Softbank.
.
Selanjutnya apa? Langkah selanjutnya yang harus disiapkan adalah: Belajar Bahasa Jepang! Wah, ini dia yang masih belum kelar. Dan aku rasa tidak akan bisa siap dalam waktu singkat. Pengalaman yang menarik adalah ketika si Dogol sedang ditinggal istri sendirian di rumah, dan tiba-tiba ada seorang polisi yang datang ke rumah kontrakan. Si polisi nyerocos dalam bahasa Jepang, sementara si Dogol hanya bengong. Percakapannya kurang lebih sebagai berikut:
(+) Konichiwa, bla bla bla yada yada yada nakata naruto sasuke sakura bla bla bla
(-) Sumimasen, watashi wa nihonggo wakarimasen (Maap, saya tidak mengerti bahasa Jepang). Eigo de daijobu desuka? (Bahasa Inggris boleh?)
.
Kalimat si Dogol adalah kalimat yang sudah dilatih ratusan kali. Kalimat sakti yang akan sangat berguna apabila ternyata lawan bicara anda adalah seseorang yang bisa (atau mau mencoba) berbahasa Inggris.
Untungnya polisi yang satu ini termasuk yang mau mencoba (tidak berarti bisa).
Pembicaraan kami kurang lebih sebagai berikut:
(-) I cannot understand what you are saying. My wife can speak Japanese, but she is currently at the Campus. She is studying at Tokyo Institute of Technology. Can you come again tomorrow?
(+) Bla bla bla bla yada yada yada jiraiya orochimaru tsunade bla bla bla
(-) *Sigh… (putus asa)
.
Setelah mencoba lagi dengan gerak tubuh dan bahasa-Inggris-patah-patah, hasilnya tampak lebih memuaskan. Pembicaraan kami kurang lebih sebagai berikut:
(-) My wife (sambil menepuk dada) speak Nihonggo. She go (menunjuk ke arah stasiun) Tokodai (Bahasa Jepangnya TIT). Back tomorrow morning. Okay?
(+) So so so (ya ya ya). Bla bla bla yada yada yada. Nine? Ten?
(-) Yes, tomorrow morning, Nine O’clock?… Qiu (Sembilan dalam bahasa Jepang).
(+) Bla bla bla start again. I back here next Nine.
(-) Haik.
(-) Bla bla bla bla Itekimasu yada yada yada Gomenasai bla bla bla
.
Sepertinya semua berjalan dengan baik. Aku rasa aku berhasil menyampaikan maksud bahwa aku mengharapkan dia kembali lagi besok, jam 9 pagi.
Agak cemas sebenarnya, karena dia berkata ‘next Nine’ yang bisa berarti juga jam sembilan malam itu, dan bukan keesokan harinya.
.
Ternyata berhasil!
Keesokannya, tepat 09.00 pagi (dasar orang Jepang, tepat waktu banget!), pak Polisi yang sama nongol lagi di depan pintu.
Yattaaa!! si Dogol berhasil berkomunikasi dengan Pak Polisi Jepang — walau dengan bahasa tarzan-campur-english-campur-nihonggo. Harus lebih baik lagi di masa yang akan datang. Kali lain belum tentu seberuntung sekarang.
.
[Gm]
Paparan ini ditulis dan di’naik-cetak’kan menggunakan Blogdesk dan koneksi softbank di rumahnya Wiku. Ditulis di dinginnya stasiun Miyazakidai, sambil menunggu kedatangan si Wiku dan Bachtiar, juga ditemani dua anak perempuan cilik yang sedang bermain jumpalitan-ala-gymnastic di ‘taman’ depan stasiun. Terima kasih telah membaca ini.





Goi… mungkin karena kegendutanmu, Pak Polisi jadi curigesyen. Doi palingan cuma mo liat kartu Alien Card aja lagi. Kamu illegal alien apa nggak, cuma pingin tau gitu doang si doi. hehehe.
Udah aku tunjukin si alien card kok. Rupanya beliau sedang melakukan sensus daerah untuk patroli atau semacamnya. Aku diminta untuk mengisi sebuah form, namun berhubung gak bisa baca sandi rumput ya gak bisa ngisinya juga. Sekarang sih sudah beres, setelah doi datang keesokan harinya dan bertemu dengan Q… :-).
Btw, sejak kapan gendut menjadi sebuah kejahatan? =D…
jahat sih nggak goi… tapi kan menarik perhatian. hahahaha
Gak apa-apa lah… belajar jadi selebritis yang menarik perhatian :D…
yauw… goyo jadi alien… awas dioperasi deui maneh teh diditu..dijadikeun dogol percobaan… he3.
mantap euy tinggal disana..
Hihihihi, tampaknya sih mereka lagi gak nyari alien dogol … gendut pula! Jadi saya masih aman lah :D…
Iya nih, Muy … jadi bapak rumah tangga :D… Ke sini atuh! Kemaren baru ketemu sama Bachtiar M’99 (asana mah LSS oge, apal teu?)…
Kata Paul Coelho, understand that everyone understand you.
Semangat belajar bahasa Jepang nya ya! Gambateee!!
Haik! Arigatou gozaimasu, Dita-san!
dokuritsu junbi choosakai….dokuritsu junbi linkai…
*entah yg mana BPUPKI ato PPKI…? lupa….
Nyaelah… kayaknya lo, gi…
asik euy, seruu..
Iya, Ndu… seru! berpetualang dengan tidak ada kejelasan nih :D…