Pernah tersesat saat mencari alamat? Aku sih sering. Dasar dogol, terkadang lebih mementingkan ego daripada efisiensi waktu — terkadang lebih memilih tersesat daripada bertanya pada penduduk lokal. Mengapa? Karena terkadang jawaban yang dicari tidak bisa ditemukan dengan bertanya.
Alkisah si Dogol mencari sebuah lapangan tenis di sekitar Dago atas. Setelah lelah mencari, bertanyalah si Dogol kepada seorang tukang kebun.
(+) Permisi, Pak. Numpang tanya, kalau lapangan tenis Anu(1) di mana ya?
(-) Ohh, lurus aja ke sana, ikutin jalan. Nanti kalau bingung, tanya lagi. Bilang lagi nyari TK yang ada mesjidnya. Lapangan tenisnya tepat di sampingnya mesjid sekolah itu.
(+) Hatur nuhun, pak. Mangga(2)…
(-) Mangga…
.
Bruummmm… sepeda motor pun kembali melaju.
.
Petunjuknya terdengar cukup sederhana, tapi dasar dogol, lapangan tenis tidak berhasil ditemukan. Si Dogol pun kembali bertanya. Kali ini pada seorang ibu penjaga kios. Sesuai petunjuk bapak tadi, pertanyaan pun diubah.
(+) Permisi, Bu. Numpang tanya, kalau sekolah TK yang ada mesjidnya di dekat sini di mana ya?
.
Jawabannya sedikit mengejutkan. Lebih banyak menyebalkannya.
.
Kira-kira begini bunyinya…
(-) TK yang ada mesjidnya? Oh, itu mah di dekat lapangan tenis. Mas jalan terus aja ke arah sana, cari lapangan tenis, bla bla bla bla …
.
Kata-kata selanjutnya sudah tidak tertangkap lagi oleh telinga dan otakku. Pikiranku sibuk sendiri. Membatin.
(+) Ada apa sih dengan TK, mesjid dan lapangan tenis ini?!?
.
[Gm]
Catatan tambahan:
Kisah di atas terjadi sekitar tahun 2003. Si Dogol dan teman-teman kuliahnya mempunyai hobi baru, bermain tenis lapangan! Entah mengapa, kami menamakan diri kami sebagai kelompok ‘Mawar Ceria’, padahal anggotanya tidak ada satupun yang cantik seperti mawar — walau semua anggota memang bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang ceria. (Baca: IP boleh satu koma, tapi kegirangan dan olahraga harus jalan terus. :-D).
Kami menyewa sebuah lapangan tenis di daerah Dago atas, dekat Dago Tea House. Berhubung latihannya pagi, maka kami berangkat sendiri-sendiri dari kediaman kami masing-masing. Kisah ini terjadi ketika si Dogol baru akan memulai latihannya yang pertama. :-)
.
Catatan Kaki:
(1) Maap, aku lupa nama lapangannya. Yang di samping TK yang ada mesjidnya itu lah :-D.
(2) ‘Hatur nuhun’ dalam Bahasa Sunda berarti ‘Terima kasih’. ‘Mangga’ dalam Bahasa Sunda berarti ’silakan’; seperti ‘monggo’ dalam Bahasa Jawa.
.
Paparan ini ditulis dan di’naik-cetak’kan menggunakan Blogdesk dan koneksi Fastnet. Terima kasih telah membaca ini.
Filed under: Talks about everything, Talks about his day, Talks about his friends, Talks about it in Bahasa Indonesia, Talks about nothing





Kalo warung rokok yang ada masjid, TK, ama lapangan tenis itu dimana goys? :-/
Wa-dziegg…
*nimpuk Wiku pake sebungkus rokok dari warung yang dekat lapangan tenis yang ada mesjid dan TK.