Kartu kredit adalah kartu sakti. Bisa berbahaya bila digunakan atau dimiliki oleh orang-orang berhati lemah. Kartu sakti hanya untuk orang sakti. Boleh jadi sakti karena punya kekuatan hati yang teguh pendirian, tidak mudah tergoda dan belanja berlebihan. Bisa juga sakti karena punya buanyaak tabungan/uang sehingga kalaupun overlimit ya tidak masalah.
Dan si Dogol ingin mencoba menjadi salah satu dari orang sakti itu. Sudah sakti kah si Dogol?
Tidak sama sekali. Ini karena terpaksa dan untuk jaga-jaga saja.
Namun entah kenapa, membuat kartu kredit ternyata susah sekali. Besar kemungkinan karena kesaktian si Dogol belum cukup mumpuni.
Bagaimana ceritanya?
.
Kalau boleh cerita mundur sedikit dulu, sebenarnya si Dogol belum segitunya membutuhkan kartu kredit. Kartu ATM sekaligus kartu debit sudah lebih dari cukup. Sayangnya, ada beberapa transaksi daring yang hanya bisa dilakukan menggunakan kartu kredit. Selama ini sih masih bisa dilakukan dengan meminjam kartu kredit sang putri-nun-jauh-di-sana, namun susah juga kalau harus selalu bergantung pada orang lain (walau itu istri sendiri :P )
Maka diputuskanlah: Si Dogol akan bikin kartu kredit!
.
Untuk mengantisipasi penggunaan kartu kredit di masa mendatang, maka si Dogol memilih untuk membuat kartu kredit di Bank ternama dan bertaraf internasional. Terlintaslah nama CitiBank dan Standard Chartered. Beruntung, mereka menyediakan sarana pendaftaran melalui internet.
Pertama, Citibank. Aplikasinya tampak cukup mudah. Rasanya semua syarat sudah dipenuhi. Tapi, ups! Wah, dia menanyakan alamat tempat tinggal. Berhubung si Dogol ini tinggal di rumah kontrakan (yang saat itu hampir habis masa sewanya), maka diputuskanlah untuk mencantumkan alamat rumah di Bandung saja. Klik, data aplikasi daring pun sudah terisi dan terkirim. Formulir dan data dalam bentuk salin-keras kukirimkan keesokan harinya.
Tunggu dan tunggu.
Tidak sampai satu minggu, seseorang yang mengaku dari pihak CitiBank menelpon. Ia menanyakan alamat rumah di Jakarta dan beberapa pertanyaan lainnya. Aku jelaskan situasiku saat itu — rumah kontrakan sudah hampir habis masa sewanya, dan aku masih belum tahu akan tinggal di mana. Ia melanjutkan dengan beberapa pertanyaan lain dan sedikit memaksaku untuk menyebutkan alamat rumah kontrakanku saat itu — dengan sedikit bingung, akhirnya aku berikan. Tak lama kemudian, telepon diakhir dengan ucapan, “Silakan Bapak tunggu kabar selanjutnya”. Entah kenapa, aku seperti sudah tahu kalau aplikasiku ditolak.
Benar saja, dua hari kemudian sebuah e-mail datang dan menyampaikan berita duka itu.
Kesimpulan pertama: Sepertinya, untuk mendaftar layanan kartu kredit, kita harus mempunyai alamat rumah tetap dan meyakinkan. Tidak boleh menggunakan alamat lain, walaupun itu rumah keluarga dekat.
.
Tidak menyerah, mari coba Standard Chartered. Aplikasi daring-nya malah lebih sederhana dari Citibank. Tidak banyak pertanyaan dan kolom yang harus diisi. Klik, semua data terkirim. Tidak perlu kirim data dalam bentuk salin-keras.
Tunggu dan tunggu.
Seminggu lebih sedikit, seseorang dari pihak Standard Chartered menelpon. Pertanyaannya lebih frontal, dan hasilnya lebih kentara — bahkan sebelum telepon berakhir. Kurang lebih begini bunyinya (bagian perkenalan tidak aku tulis):
(+) Bapak sudah punya kartu kredit lain? Kartu kredit apa?
(-) Saya belum punya kartu kredit lain, mbak.
(+) Wah, gak punya ya, pak?
(-) Saya hanya butuh satu kartu kredit, mbak.
(+) Begitu ya, pak? Gini deh, nanti saya telepon lagi ya, pak? Selamat Siang.
(-) ………
.
Seperti bisa diduga, si Dogol tidak pernah menerima telepon dari mbak-Standard-Chartered bersuara manja itu lagi. Dan aplikasi kartu kredit si Dogol ketelingsep entah di mana.
Kesimpulan kedua: Logika Bank — untuk membuat kartu kredit, anda harus mempunyai kartu kredit. Logika si Dogol — kalau sudah punya kartu kredit, ngapain buat kartu kredit lagi?
.
Kesimpulan akhir: Si Dogol masih belum punya kartu kredit. Sepertinya benar kata temanku, lebih mudah kalau buat kartu kredit di Bank tempat kita menabung. Belum terbukti, tapi besar kemungkinan benar.
Yah, nanti deh kalau ada waktu untuk pergi ke Bank. Andai saja BCA menyediakan pendaftaran layanan kartu kredit dalam jaringan.
.
[Gm]
Paparan ini ditulis dan di’naik-cetak’kan menggunakan Blogdesk dan koneksi Fastnet. Terima kasih telah membaca ini.





Kalau mau aplikasi kartu kredit sebaiknya melalui alamat kantor saja..nanti yang diwawancara pihak kantor, bisa teman atau atasannya.
Setelah pensiun, saya baru menggunakan alamat rumah.
Bu Enny, berhubung sedang merencanakan monuver-monuver rahasia… sepertinya kurang bijak untuk menggunakan alamat kantor sebagai alamat penagihan hehehe. Aku sudah pasrah, gak usah punya kartu kredit aja deh. Pinjem istri aja terus. :D.
Hey, you have a great blog here! I’m definitely going to bookmark you! Thank you for your info.And this is kredite site/blog.
It pretty much covers krediterelated stuff.