Waduh, ini cerita yang cukup lama tertunda. Maap.
Mari kita mulai ceritanya.
Berbeda dengan di Indonesia, masyarakat Jepang umumnya tidak memiliki kendaraan pribadi. Sarana transportasi publik yang sudah mapan membuat kebutuhan untuk kendaraan pribadi tidak tinggi. Contohnya sebuah mobil, masih bisa dianggap barang mewah. Harganya mungkin tidak seberapa mahal (bila dibandingkan dengan kemampuan beli mereka), tapi tetap saja tidak semua orang punya. Kenapa? Ya, karena masih dianggap kebutuhan yang ‘mahal’. Ongkos yang harus dipikirkan tidak berhenti sampai dengan harga beli dan pajak saja, tapi juga ongkos perawatan dan (ini dia yang mahal) PARKIR. Ya, biaya parkir bukanlah sesuatu yang murah di negeri ini (eh, harusnya di negeri itu — berhubung si Dogol sudah kembali ke kampung halaman), utamanya untuk parkir menginap. Ini bisa menjadi masalah besar karena umumnya tempat tinggal di Tokyo tidak ‘dilengkapi’ dengan sarana parkir.
Jadi, kendaraan apa yang banyak dimiliki orang Jepang? Sesuai judul paparan: Sepeda.
Beginilah kisahnya.
.
Orang-orang (di) Jepang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama untuk perjalanan jarak dekat. Mereka menggunakan sepeda ke pasar, ke kantor, ke mal, ke rumah sakit, ke rumah teman, ke kampus, dan lain-lain. Singkat kata, ke tempat-tempat yang masih terjangkau sepeda. Bagaimana kalau tidak terjangkau? Untuk perjalanan jauh, mereka banyak menggunakan kereta api.
Jenis sepeda di Jepang bermacam-macam. Mulai dari sepeda kumbang sampai dengan sepeda balap yang bisa dilipat. Harganya relatif mahal, asesorisnya pun bermacam-macam. Ada cermin pengintip (spion?), tuter, lampu dan lain-lain. Tokonya pun bertebaran di mana-mana.
Hal yang cukup menarik dalam hal bersepeda di Jepang adalah larangan bagi orang dewasa untuk berboncengan. Kalau orang dewasa dan anak kecil boleh — bahkan bisa sampai dua anak — asalkan disediakan tempat berbonceng yang layak dan benar. Aku masih belum tahu alasan pelarangan tersebut. Uniknya, bahkan orang Jepang yang aku tanya pun tidak tahu alasannya. Bagi mereka, sudah dari sononya tidak boleh berboncengan. Salah satu alasan yang cukup logis menurutku adalah masalah keselamatan. Terkadang bersepeda berboncengan memang bisa berbahaya/membahayakan.
Kisah sepeda menarik lainnya adalah mengenai parkir sepeda.
.

.
Sebenarnya tidak semua lapangan parkir sepeda di Jepang semewah gambar di atas. Kalau yang seperti ini sih adalah lapangan parkir sepeda berbayar di kota. Masing-masing sepeda ada slot sendiri, dan di slot tersebut ada kuncinya. Saat roda depan sepeda masuk ke slot, mekanisme otomatis akan mengunci sepeda. Untuk membukanya, kita harus membayar di sebuah mesin yang terpusat. Masukkan uang dan angka lokasi slot sepeda anda, dan voila… sepeda anda sudah dapat diambil. Harga yang harus dibayar? Kalau aku tidak salah menafsirkan: JPY 100/hari.
.


.
Rupanya di sebelah lapangan parkir sepeda juga ada lapangan parkir untuk sepeda motor. Sistem kerjanya mirip, namun teknis pengunciannya berbeda. Beberapa sepeda motor tersebut dikunci menggunakan (semacam) rantai dan gembok.
.

.
Nah, coba lihat gambar berikut. Ayo tebak, tempat apakah itu? Apa yang terjadi (atau akan terjadi) pada rombongan sepeda/sepeda motor itu?
.




.
*Pertanyaan di atas ditujukan untuk teman-teman yang tidak tinggal di Jepang :-). Silakan tulis jawaban/tebakan anda di kolom komentar. Terima kasih.
.
[Gm]
Tambahan:
Aku tidak seberuntung itu untuk melihatnya langsung, tapi tautan berikut ini berhubungan dengan parkir sepeda di Jepang, dan menurutku sangat menarik :-)
Paparan ini ditulis dan di’naik-cetak’kan menggunakan Blogdesk dan koneksi Fastnet. Foto-foto merupakan koleksi pribadi, diambil di suatu tempat di daerah Shinjuku – Tokyo, April 2009. Terima kasih telah membaca ini.
Filed under: Talks about everything, Talks about his day, Talks about information, Talks about it in Bahasa Indonesia





itu yang parkir sembarangan bukan ??
Hampir tepat, Muy.
Itu adalah kumpulan sepede/sepeda motor yang ‘ditangkap’ karena melanggar. Bisa parkir sembarangan atau hal-hal lain. Bisa dibilang, tempat itu adalah penjara sepeda/sepeda motor :-)
Itu tempat parkir sepeda deket rumah gua kannnn. Lengkap dengan kuburan sepedanya. hehehehe.
Lah, kan emang udah aku tulis di bagian bawah paparan. Diambil di suatu daerah di Shinjuku… :-)
tuh kan.. di negera maju aja pada bersepedah..
bangsa kita kok sombong amat ya..??
Aku rasa sombong bukanlah kata yang tepat. Mungkin ‘malas’ bisa lebih tepat hehehe.
*malas mboseh, malas kena panas, malas keringatan, malas capek dll. :-P
target b2w tiap jumat beum terlaksana full,
terhalang bangun pagi :D
Pasang alarm ateuhh… :-D… masa iya perlu aku bangunin?
wah aman ndak yah pa danang kalo di jalan cakung cilincing?
kan banyak trailer dan truk2 raksasa…
boleh juga tuh di coba kapan2…
mungkin lebih aman kalo naik sepeda di atas truk trailer… *halah, apa sih Goj!?!
>>>Aku masih belum tahu alasan pelarangan tersebut.
Yah… kan udah saya kasih tau panjang lebar goys pas kita ke NHK. Semuanya berawal dari dua puluh tahun yang lalu…… :D
Akh, kalo menurut elo mah semua juga berawal dua puluh tahun yang lalu.
Sebelum dua puluh tahun yang lalu, there was nothing! Nothing, I tell you!
[...] Dogol Bicara Parkir Sepeda Susun 13 11 2009 Ini masih cerita oleh-oleh dari Taiwan. Sepertinya di Jepang juga ada sih tempat parkir sepeda susun seperti ini, tapi baru sempat menulis dan memfoto barangnya saat berada di Taipei, Taiwan. Anggap saja ini tambahan untuk cerita parkir sepeda yang waktu itu. [...]