Dogol Bicara Krisis Energi

October 15, 2007

ist2 3986571 forward thinking Krisis Energi! Sebuah berita yang mungkin basi. Kronis. Masalah tanpa solusi yang pasti. Mengapa? Ya karena menurut si Dogol, permasalahan ini bukanlah persoalan matematika sederhana di mana hanya ada satu solusi. Kalau istilah kerennya sih ini adalah permasalah dengan banyak solusi.

Sayangnya solusi yang banyak itu punya syarat tambahan, yakni harus berjalan ‘bersama-sama’, kalau tidak ya keseluruhan permasalahan tidak akan kunjung terselesaikan juga. Mungkin ibaratnya itu seperti efek domino yang terputus. Ketika salah satu bidak dikeluarkan dari barisan bidak-bidak domino, maka perjalanan efek domino tersebut akan terhenti. Terpaksa kembali ke titik awal, dan masalah yang sama akan terulang lagi.

Pusing bacanya? Tenang, ini si Dogol yang berbicara, seharusnya akan menjadi relatif mudah dimengerti =).

Yak, mari kita lanjutkan…

 

Aku coba jelaskan lagi dengan lebih kronologis.

Kita butuh energi. Untuk penerangan, memasak, transportasi, komunikasi dan lain-lain. Dari mana sumbernya?

Dahulu kala, ketika sumber energi tak-terbarukan ditemukan, semua orang berbahagia. Ini adalah jawaban akan kebutuhan energi kita! Minyak bumi, gas alam, batu bara dan sumber-sumber yang lain dicari dan diambil. Eksplorasi yang berkembang menjadi eksploitasi.

Lalu apa yang terjadi? Tampak semua orang sudah bahagia dengan solusi yang ada sampai terlena dengan perkembangan kondisi. Konsumsi melebihi pemasukan. Sumber energi tak-terbarukan tidak mampu lagi memenuhi seluruh kebutuhan energi.

Aku tekankan lagi, konsumsi melebihi pemasukan. Besar pasak daripada tiang.

Belum lagi dengan isu lingkungan lainnya. Eksplorasi dan eksploitasi dianggap mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Betul, pendapat ini pun tidak akan si Dogol sanggah. Tapi aku rasa terlalu naif dan munafik (bahkan dogol?) kalau kemudian ada pendapat bahwa eksplorasi dan eksploitasi sumber energi tak-terbarukan itu harus dihapuskan dari muka bumi. Kalau itu terjadi, dari mana kita bisa dapat energi untuk kehidupan sehari-hari kita? Menghentikan kegiatan ini, menurut si Dogol, bukanlah solusi yang cantik.

 

Jadi, apa dong solusinya?

Untuk kasus ini, hal yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan kegiatan eksploitasi energi tak-terbarukan tadi dengan cara yang ciamik. Mempertimbangkan lingkungan. Menjadi manusia-manusia yang lebih mempunyai pertimbangan.

Solusi cantik lain yang bisa berjalan beriringan adalah penggalakan efisiensi energi, termasuk di dalamnya penghematan energi.

 

Bagaimana dengan pengembangan energi terbarukan?

Ya, menurut si Dogol, itu adalah salah satu solusi yang cantik untuk pemenuhan kebutuhan energi kita. Mengembangkan energi terbarukan sambil memperbaiki ‘kualitas’ kegiatan eksplorasi dan eksploitasi agar ‘tidak terlalu’ merusak lingkungan adalah sebuah perpaduan yang menarik.

Harapannya, suatu saat nanti akan ditemukan sebuah sumber energi terbarukan yang mampu 100% mengganti penggunaan sumber energi tak-terbarukan. Sumber energi impian. Tanpa emisi merugikan, ramah lingkungan DAN terbarukan.

 

Namun…

Siapa yang bisa menjamin bahwa solusi ini akan kekal? Siapa yang bisa menjamin bahwa kemudian kita tidak akan kembali ke kondisi awal? Kondisi bahwa ternyata konsumsi melebihi pemasukan.

Aku tekankan lagi, konsumsi melebihi pemasukan. Besar pasak daripada tiang.

Kok bisa? Bukankah energinya terbaharukan? Jadi bisa dibuat kapan saja, dengan jumlah yang berapa saja?

Ah, mimpi kamu!(1)

 

Misalkan sumber energi impian tersebut adalah bio-diesel(2) yang sudah sempurna (100% terbarukan, tanpa campuran diesel-fuel), dibuat dari pengolahan minyak jarak. Konsumsi terus meningkat sementara produksi sudah mencapai titik jenuh. Tak dapat ditingkatkan lagi walaupun perkebunan tanaman jarak sudah sedemikian banyaknya. Haruskah seluruh bumi ini diubah menjadi ladang ganja tanaman jarak? Apakah itu akan menyelesaikan masalah?

Terlena. Lagi-lagi terlena dengan kenyamanan. Tiba-tiba kembali ke kondisi awal ketika terjadi krisis energi tak-terbaharukan.

 

Lalu bagaimana?

Si dogol berpendapat bahwa konsumsi lah kuncinya. Kalau tidak bisa mengendalikan pemasukan, maka pengeluaranlah yang harus dikendalikan. Apapun sumber energi yang digunakan, baik itu sumber energi terbarukan maupun yang tak-terbarukan, ya harus dikonsumsi dengan baik.

 

Apa definisi ‘konsumsi yang baik’?

Hemat

Efisien

Efektif

Penuh pertimbangan

Sustainable

dan lain-lain…

 

Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Tenang, paparan si Dogol ini tidak bermaksud menghimbau teman-teman untuk berpikir keras mencari solusi yang super cantik dan bisa menyelesaikan semua permasalahan energi dunia(3). Seperti aku bilang tadi, seperti bidak-bidak domino, kita bisa menjadi bagian dari penyelesaian masalah.

Pikirkan yang sederhana dan bisa diterapkan saat ini saja dahulu. Sesuai dengan kapasitas masing-masing. Hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah dengan membiasakan diri mengkonsumsi energi dengan ‘baik’.

Mematikan lampu yang tidak digunakan misalnya, atau bersepeda ke kantor?

Maap, paparan ini tidak bermaksud menggurui. Paparan ini hanya dibuat agar teman-teman menyadari bahwa tindakan apapun yang teman-teman ambil bisa memberikan efek domino (atau efek kupu-kupu?) yang membawa kebaikan (hati-hati, bisa jadi keburukan juga lho). Si dogol ini pun masih belajar bagaimana cara mengkonsumsi energi dengan baik. Ayo, kita belajar bersama-sama.

Satu tindakan kecil bisa memberikan efek yang besar. Jadi, ayo bertindak! =)…

 

:.\Goio

Catatan:

(1) Mimpi itu perlu. Si Dogol juga senang bermimpi. Tanpa mimpi, tak ada perubahan. Tapi dalam paparan kali ini, si Dogol ingin mengambil sudut pandang worst-case scenario.

(2) Bio-Diesel hanya sebagai contoh. Bukan berarti bahwa menurut si Dogol bio-diesel adalah sumber energi terbarukan yang terbaik.

(3) Yah, kalau ternyata ada yang bisa menemukan solusi super cantik itu sih ya bagus juga =). Bagi-bagi ya sama kita…

Paparan ini ditulis, selain untuk mengutarakan opini si Dogol, juga sebagai salah satu bentuk dukungan pada blog action day.

Bloggers Unite - Blog Action Day

Paparan ini ditulis dan di’naik-cetak’kan menggunakan Blogdesk dan koneksi Starhub. Foto ‘lampu’ diambil dari istockphoto.com. Terima kasih telah membaca ini.

15 Responses to “Dogol Bicara Krisis Energi”

  1. imcw Says:

    sayangnya pemerintahan di seluruh dunia tidak ada yang memikirkan ini…tujuan mereka cuma satu, ngisi perut hari ini, persetan dengan hari esok…

  2. .\Gojo Says:

    imcw,
    Humm… kalo menurut si dogol ini, tidak ada gunanya menyalahkan pemerintahan (apalagi seluruh dunia)…. kritik tak ada guna. Mungkin lebih baik kalau masing-masing mengerjakan apa yang bisa dikerjakan saja =)…

  3. caplang™ Says:

    kalo tehnologi yg pake sinar matahari masih mahal ya, mas?


  4. [...] • Selamatkan Bumi, mulai hari ini! • Maling Ramah Lingkungan • Pay It Forward • Menjadi Insan Perubahan sebagai Aksi Nyata Terhadap Lingkungan • Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup melalui Dunia Pendidikan • Jakarta: Udaraku, Udaramu, Udara Kita Semua • Selamatkan Mangrove • Merawat langit • Global Warming and Destruction of the Earth • Welcome to Bali • Anak Siapa? • Krisis Kepemimpinan Lingkungan Hidup • Selamat Datang Di Kalimantan • Katakan Tidak Pada Plastik Swalayan • Dogol Bicara Krisis Energi [...]

  5. aRuL Says:

    iyah benar gerakan menghemat…
    *untung saya masih jalan kaki ke kampus…*


  6. [...] Dogol Bicara Krisis Energi [...]

  7. rime Says:

    cape kali kalo nyalah2in pemerintah terus mah..

    bener kata om goio, lakukan kecil2an saja..

    masih naik bus ke kantor, om?

    *balik ke habit awal, memanggil lu dengan sebutan “om” hahaha..*

  8. .\Gojo Says:

    caplang,
    Sinar matahari-nya sih gratis, tapi teknologinya masih mahal. Belum efisien juga tampaknya… yah, sekedar opini atas dasar keterbatasan ilmu si dogol sih =)

    arul,
    hebat lah kalau ke kampus jalan…
    *mikir, kayaknya aku masih belum mampu jalan kaki ke kampus… terlalu banyak yang harus dikompromikan…

    rime,
    kecil-kecil juga ntar jadi gede ya me?
    Naik bus? masih! … hehehe…

    *om? sigh…


  9. [...] It Forward”, atau ”Global Warming and Destruction of the Earth” (maaf untuk blogger lain yang tidak disebut tulisannya di sini, apalagi yang judulnya panjang-panjang). Tapi seberapa efektifkah [...]

  10. aRuL Says:

    @ Goio :: tapi kayaknya tetap diusahakan hal2 terkecil kita lakukan….yah jalan kaki untuk jarak yg bisa dikompromikan dengan kaki, hehehe

  11. .\Gojo Says:

    aRuL,
    tentu saja, hal-hal yang kecil yang aku mampu… dan jalan kaki ke kampus (atau kalau untuk aku adalah jalan kaki ke kantor) tampaknya masih merupakan sesuatu yang aku tidak mampu…

  12. duy Says:

    Setuju goy…

    Coba deh google: carbon foot print, akan banyak kuis untuk ngetes konsumsi energi kita. Gue aja udah ngerasa sok ‘energy cautious’ tapi ternyata, dengan pola hidup gue, gue membutuhkan 3 bumi untuk hidup!! Busettt…

    Bagi2 tips dikit aja untuk save energy:
    1. unplug benda2 elektronik, bahkan jangan dalam posisi standby.
    2. pakai lampu dan barang2 lain yang hemat energi (termasuk mobil kecil dibandingkan dengan SUV yg boros fuel)
    3. cari rute yang paling pendek karena transportasi itu karbonnya guede banget, apalagi pesawat..

    Yuks ahhh..

  13. .\Gojo Says:

    duy,
    wuidih.. aku mau ngitung konsumsi energi kita tapi data-nya kurang lengkap, jadi tampaknya aku tunda dulu hehehehe….

    terima kasih atas tips2nya… aku pikir hal-hal seperti itu bisa lebih berguna dari tidak berbuat sedikit pun =)


  14. [...] cerita dari seorang teman yang dikisahkannnya kepada saya. Seorang teman yang menjadi aktifis lingkungan pernah menjadi duta (entah duta apa) yang mewakili Indonesia ke Afganistan. Di sana dia bertemu [...]


  15. [...] cerita dari seorang teman yang dikisahkannnya kepada saya. Seorang teman yang menjadi aktifis lingkungan pernah menjadi duta (entah duta apa) yang mewakili Indonesia ke Afganistan. Di sana dia bertemu [...]


Leave a Reply